Senin, 10 November 2008

Membuat Lead Feature

SEPERTI bentuk tulisan lain di media massa, tak ada aturan baku terkait lead atau intro dari sebuah feature. Satu-satunya aturan yang ada adalah bahwa lead tersebut haruslah berupa sesuatu yang menarik, baik dari sisi konten maupun penataan kalimatnya. Jangan bertele-tele, jangan pula membuat kalimat-kalimat yang terlalu panjang, atau penuh dengan angka-angka pada kalimat pertama.

Meski tak ada aturan baku dalam penulisan lead, ada beberapa jenis lead yang kerap digunakan oleh para penulis bisa dikenali. Beberapa ahli menamainya dengan nama yang berbeda, meski sesungguhnya isinya itu-itu juga. Berikut di antaranya. (Nama dan tempat yang dijadikan ciontoh lead, bukan peristiwa sebenarnya)

1. Lead sebab akibat atau biasa juga dikenal sebagai lead pasak. Lead ini dimulai dengan apa yang menjadi pemicu dari peristiwa yang diangkat.

Kalau saja guru dan teman-temannya tak terus mencemooahnya sepanjang hari itu, Bunga,
siswa SD Negeri 1001 Jakarta itu mungkin masih berkumpul bersama keluarganya. Pekan lalu, ia mengiris sendiri urat nadi di pergelangan tangannya dengan potongan kaca. Itu dilakukannya di depan kelas sambil menangis sesegukan.


2. Lead kontras atau kontradiktif. Sesuai namanya, lead ini menampilkan sudut yang kontradiktif terkait peristiwa yang ditulis. Penulis berupaya menyajikan ironi. Lead ini bisa sangat luarbiasa jika ditulis dengan baik.

Ketika serombongan petugas menghancurkan rumah petaknya di pinggiran Sungai Brantas, Sabtu pagi itu, Sumarni hanya mampu menangis sambil memeluk ketiga anaknya di seberang jalan di depan sebuah rumah makan. Ia sungguh tak bisa mengerti. Tangannya gemetar memegang resi pembayaran PBB yang baru dilunasinya, pekan lalu.

3. Lead pertanyaan. Seperti namanya, lead ini dimulai dengan kalimat bertanya atau kalimat retoris.

Masih adakah pintu maaf bagi Srimanu yang dengan keji telah menyiksa anak dan istrinya sendiri hingga maut menjemput mereka? Pria separo baya yang kini terbaring sakit itu hanya bisa terdiam. Kelopak matanya sembab. "Bahkan pada Tuhan pun saya malu memintanya," bisik Srimanu lirih, nyaris tak terdengar.

4. Lead deskriptif. Seperti namanya, rangkaian kalimat dalam lead ini berisi penggambaran tentang suasana, mimik, atau apa pun yang dianggap paling menarik terkait peristiwa yang ditulis.

Parasnya pucat, tubuhnya kaku, tampak seperti mayat. Hanya matanya yang berkedip. Ini sudah hari kelima. Ia masih sadar. Sejak gempa meluluh-lantakan Padang, Sabtu tengah malam lalu, petugas belum juga berhasil mengeluarkannya dari reruntuhan.

5. Lead figuratif. Ini adalah jenis lead yang menggunakan perumpamaan yang hiperbolis untuk menggambarkan fragmen yang dicuplik. Hampir sama dengan lead ini adalah lead epigram atau ungkapan khas untuk mengumpamakan sesuatu.

Bagai punguk merindukan bulan, penantian Yanti (23) selama tiga tahun ini berakhir sia-sia. Yanto (26), lelaki yang dinikahinya empat tahun lalu, ternyata memilih tinggal di Malaysia dan tak ingin kembali.

6. Lead parodi. Seperti namanya, lead ini mengambil sebuah parodi dari fragmen peristiwa yang dicuplik.

Saking sukanya pada warna putih, Jajang (24) dituntut cerai oleh isterinya sendiri. Sang isteri, Neneng (20), rupanya tak tahan karena setiap hari harus mengenakan busana serba puti oleh suaminya.


7. Lead kutipan. Lead ini menggunakan kutipan yang dianggap paling menarik sebagai awal kalimat.

"Mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur," sesal Tono yang sejak pekan lalu terpasa meringkuk di sel tahanan Mapolres Sumedang karena mencuri sapi milik tetangganya.


8. Lead sapaan. Lead ini menggunakan gaya bagasa bertutur.

Sayang, pagi begitu dingin di Bukit Manoreh. Seperti kemarin, wajahmu selalu terbayang. Rindu seperti tak bertepi.
Di benak Rudi, memang hanya ada Sinta yang begitu dicintanya. Ia bahkan tetap menanti, meski Sinta tak akan pernah kembali.



9. Lead literer. Lead ini menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang dijadikan perumamaan bisa saja fiktif, tapi bisa juga peristiwa nyata yang dianggap satu napas.

Kisah Sengkon dan Karta kembali terulang. Polisi lagi-lagi salah tangkap. kali ini terjadi di Kota Banjar.


10. Lead dialog. Lead ini menggunakan cuplikan dialog yang dianggap paling menarik.

"Berapa usiamu saat menikah?"
"Lupa, Pak Lurah. Saya baru saja kelas lima SD saat Pak Ujang datang dan menemui Bapak untuk melamar."
Ina, begitu nama pengantin cilik itu. Kini ia tengah mengandung, anaknya yang kelima.


11. Lead Kumulatif. Lead ini sebenarnya masih termasuk lead deskriptif. Namun, penulis tak memilih fragmen tertentu, melainkan menuliskan rentetan peristiwa secara berurut dan membawa pembaca pada antiklimaks peristiwa.

Tak lama setelah memperoleh informasi itu, Anita pun bergegas berlari ke lantai tiga. Dalam benaknya, sesuatu telah terjadi. Yang terbayang adalah paras anaknya yang menjerit meminta pertolongan. Tapi di lantai tiga ternyata tak ada siapa pun. Hanya secarik kertas berisi tulisan anaknya.


(arief permadi)

1 komentar:

wendy mengatakan...

thanks, sangat membantu tugas saya, tapi ada buku referensinya ga??