Senin, 13 Oktober 2008

Bahasa Nasional

APA bahasa nasional Amerika Serikat? Semua pasti menjawab: Inggris. Jawaban itu benar hanya setelah 18 Mei 2006. Sebelumnya AS tak punya bahasa nasional.

Memang baru sejak hari itulah negeri Abang Sam memiliki bahasa nasional. Jadi, 230 tahun setelah merdeka! Senat menyetujui bahasa Inggris menjadi bahasa nasional pada 18 Mei 2006 seperti yang diusulkan James Inhofe, Republikan dari Oklahoma. Suara setuju 64 berbanding 34 dengan suara menentang.

Perjuangan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional tidaklah mudah. Dalam pemungutan suara banyak juga anggota Senat yang mengingini hal lain: kemajemukan bahasa seperti juga kemajemukan etnisitas di negeri itu. Di AS memang duduk orang-orang dari pelbagai etnisitas. Dipakai pula berbagai bahasa di sana. Tak heran bila pernah muncul lagu kebangsaan berbahasa Spanyol.

Setelah bahasa Inggris, bahasa Spanyol menempati urutan kedua, disusul bahasa Jerman dll. Semua bahasa itu mendapat hak hidup. Bagi mereka yang tak mengerti bahasa Inggris, pemerintah menerjemahkan peraturan ke bahasa yang bersangkutan. Pertambahan imigran dari kawasan tak berbahasa Inggris meningkatkan jumlah penutur berhahasa bukan-Inggris dan ini makin menggelisahkan yang berbahasa Inggris.

Tahun 1981 adalah awal gerakan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Senator SI Hiyakawa, Republikan asal California, adalah pengusulnya. Tak berhasil, dia mendirikan US English sebagai wadah perjuangannya. Lembaga-lembaga masyarakat lain seperti English Only Movement dan English First muncul kemudian. Mereka terus berjuang dari tahun ke tahun. Penentang mereka terutama warga negara berhahasa Spanyol.

Bangkitnya neokonservatif memuluskan perjuangan bahasa nasional. Apalagi Presiden Bush cenderung ke arah itu. Puncaknya adalah disetujuinya bahasa Inggris sehagai bahasa nasional.

Dalam hal bahasa nasional, Indonesia rupanya lebih maju. Tahun 1928 para pemuda kita sudah berikrar-kata ikrar tadinya direncanakan alih-alih sumpah-untuk satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan itu. Ihwal bahasa negara di dalam UUD 1945 lancar-lancar saja perjalanannya.

Sejarah memang berpihak pada perjuangan untuk bahasa Indonesia ini. Dua tahun sebelum 1928, pada Kongres Pemuda I, para pemuda sudah menginginkan itu. Hanya perdebatan tentang bahasa apa yang akan dijunjung (bahasa Indonesia atau bahasa Melayu) yang menghalangi Ikrar Pemuda dicetuskan tahun 1926. Jika ada kesepakatan di dalam tim perumus yang terdiri dari Muhammad Yamin, Djamaludin Adinegoro, Mohammad Tabrani Suryowitjitro, dan Armijn Pane itu, boleh jadi Sumpah Pemuda dicatat tahun 1926. Bukan 1928!

Munculnya bahasa Indonesia sendiri tidaklah tiba-tiba. Awalnya para pedagang di pelabuhan-pelabuhan Nusantara menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi. Jakarta, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Makassar, Ternate, dan Ambon adalah pelabuhan tempat pedagang singgah. Di situ berkembang bahasa Melayu dengan kekhasan setempat: bahasa Betawi (Jakarta), bahasa Manado (Manado), bahasa Banjar (Banjarmasin), Melayu Makassar (Makassar), dan bahasa Melayu Ambon (Ambon).

Ketika penjajah sulit berkomunikasi derigan penduduk setempat, bahasa Melayu yang digunakan. Demikian juga untuk bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang mereka dirikan di berbagai daerah. Jadilah bahasa yang aslinya di daerah Riau dan Johor (Malaysia) itu bahasa pengantar kedua setelah bahasa Belanda.

Ketika para pejuang kemerdekaan muncul, bahasa Melayu yang jadi pilihan dalam berkomunikasi. Media massa juga menggunakan bahasa ini. Tokoh-tokoh pergerakan kemudian mengenalkan istilah Bahasa Indonesia. Pada Februari 1926 wartawan Mohammad Tabrani sudah menuiis tentang perlunya Bahasa Indonesia-bukan Bahasa Melayu-sebagai perekat negara dan bangsa yang dicita-citakan bersama. Agar orang yang berbahasa selain Melayu tidak merasa dijajah oleh bahasa Melayu, maka gunakan saja bahasa Indonesia, begitu pernyataan dalam tulisannya di koran Hindia Baroe.

Kini bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa perhubungan, baliasa resmi yang harus dipakai dalam urutan pemerintahan dan bahasa pengantaur di dunia peudidikan. Dalam hal ini kita mendahului Amerika Serikat. Sewajarnya, terutama para pejabat, menggunakannya kapan saja di mana saja. Sebab itu, tidak pantas muncul lagi kalimat I don't care atau proyek busway atau juga BUMN Award. Ada bahasa nasional kita untuk ungkapan seperti itu!(*)


Sumber Primer : Kompas,21 Juli 2006. Penulis: TS Asmadi
Sumber Sekunder : http://pelitaku.sabda.org/
Penulis adalah wartawan, Ketua Forum Bahasa Media Massa (FBMM)

Bahasa Lokal Kita yang Direndahkan

DIRJEN Ditjen Bina Produksi Departemen pernah menembuskan sepucuk surat kepada Kepala Lembaga Bahasa Indonesia. Isinya berhubungan dengan penggunaan istilah "lokal" (yang dinilai bercitra kurang positif atau inferior) untuk memaknai produk buah-buahan hasil kebun Tanah Air sendiri.

Ia menyarankan, apabila kita tidak bisa menemukan suatu kata lain untuk membedakan buah produk Indonesia dengan buah impor, maka lebih baik tidak perlu memberi identitas apa pun di belakang penyebutan nama buah produk Indonesia. Katakan saja jeruk kalau itu jeruk, tak perlu menambahinya dengan kata "lokal".

Ditambahkan lagi, taruhlah kita berada di Jakarta, maka menjadi kurang tepat apabila mangga probolinggo diberi label "mangga lokal", sebab makna kata lokal adalah "setempat; atau khusus dari/bagi suatu tempat". Penggunaan kata lokal di sini selain bercitra rendah juga salah karena mangga tersebut bukan hasil sebuah kebun di kawasan Menteng. Pemaknaan mangga lokal barulah tepat jika mangga probolinggo dijual di Kota Probolinggo.

Buah pikiran Bapak Dirjen ada sisi benarnya. Produk buah-buahan tertentu hasil kebun kita memang ada yang kurang bagus jika dibandingkan dengan produk impor. Janganlah buah-buahan kita yang sudah enggak 'pede' itu diberi ciri yang semakin mempermalukannya. Akan tetapi, alih-alih lekas-lekas mengenyahkan cap "lokal" yang sekaligus akan menghilangkan segala identitas (baik dan buruk), maka mari kita mengkaji lagi sejenak masalah ini.

Kemungkinan besar memang kata "lokal" sengaja dipakai untuk membedakan produk dalam negeri dari produk buah impor. Dengan strategi ini, adakalanya pedagang mampu menjual buah impor dengan lebih tinggi. Namun, pada era global seperti sekarang, beberapa komoditi buah impor harganya ternyata sudah bisa lebih murah pula daripada buah lokal! Tampaknya, pada akhirnya konsumen pasti kembali kepada penilaian yang rasional terhadap mutu dan penampilan buah- buahan itu sendiri dan tak terlalu terpengaruh oleh label yang menyatakan impor atau lokal.

Jika kata lokal tetap harus dicarikan penggantinya, maka salah satu usul yang dapat disampaikan pada kesempatan ini adalah dengan mempergunakan kata yang menunjukkan tempat asal buah tersebut. Daripada mengatakan jambu lokal, maka sebutlah -- umpamanya -- jambu cianjur (untuk jambu yang datang dari Cianjur). Kalau konsumen tetap memilih jambu bangkok, maka barangkali dia memang mau makan jambu bangkok saja!

Lihatlah bagaimana penjual duku dengan percaya diri menyebut barang dagangannya sebagai duku palembang, tanpa peduli dari mana asal-usul buah itu. Lalu, salak mana yang mampu menyaingi salak bali atau salak pondoh?

Apabila masyarakat kita memang maniak barang impor, bahasa tidak bisa mengubah apa-apa. Apel malang bisa saja diaku apel australia oleh penjual buah di pasar becek. Tentu, agar laku dengan harga lebih mahal. Rekayasa bahasa tak dapat menyembuhkan masyarakat yang sakit maniak. Apa boleh buat, Pak Dirjen ... Atau, kita perlu coba angkat kata "nasional" menggantikan "lokal guna menggempur kata "impor" itu?

Sumber Primer : Majalah Intisari Edisi Juni 2005. Penulis: Lie Charlie
Sumber Sekunder : http://pelitaku.sabda.org/

Bahasa Gaul Gitu Looh...

BAHASA gaul sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi karena sering juga digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari.

Kita pasti sering mendengar istilah-istilah gaul seperti cupu, jayus, atau jasjus, dan sebagainya. Bahkan mungkin kita sendiri sering menggunakannya dalam obrolan sehari-hari dengan teman-teman. Sebagai anak gaul, ya kita sih senang-senang saja menggunakan kosakata barn yang enggak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Paling- paling guru bahasa Indonesia atau orangtua kita saja yang agak risi kalau kebetulan mereka mendengarnya.

Seharusnya mereka enggak perlu merasa terganggu mendengar bahasa gaul remaja zaman sekarang. Toh di saat mereka muda dulu, mereka juga punya bahasa gaulnya sendiri. Iya, bahasa gaul enggak hanya muncul belakangan ini saja, tapi sudah muncul sejak awal 1970-an. Waktu itu bahasa khas anak muda itu biasa disebut bahasa prokem atau atau bahasa okem. Salah satu kosakata bahasa okem yang masih sering dipakai sampai sekarang adalah "bokap".

Bahasa okem awalnya digunakan oleh para preman yang kehidupannya dekat sekali dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru mereka ciptakan agar orang-orang di luar komunitas mereka enggak mengerti. Dengan begitu, mereka enggak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk membicarakan hal negatif yang akan maupun yang telah mereka lakukan.

Karena begitu seringnya mereka menggunakan bahasa sandi mereka itu di berbagai tempat, lama-lama orang awam pun mengerti yang mereka maksud. Akhirnya mereka yang bukan preman pun ikut-ikutan menggunakan bahasa ini dalam obrolan sehari-hari sehingga bahasa okem tidak lagi menjadi bahasa rahasia. Kalau enggak percaya, coba deh tanya bokap atau nyokap kita, tabu enggak mereka dengan istilah mokal, mokat, atau bokin. Kalau mereka enggak mengerti artinya, berarti di masa mudanya dulu mereka bukan anak gaul.

Dengan motif yang lebih kurang sama dengan para preman, kaum waria juga menciptakan sendiri bahasa rahasia mereka. Sampai sekarang kita masih sering kan mendengar istilah "bencong" untuk menyebut seorang banci? Nah, kata bencong itu sudah ada sejak awal 1970-an juga, ya... hampir bersamaan deh dengan bahasa prokem. Pada perkembangannya, konon para waria atau banci inilah yang paling rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang kemudian memperkaya bahasa gaul.

Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering enggak beraturan alias enggak ada rumusnya. Sehingga kita perlu menghafal setiap kali muncul istilah baru. Misalnya untuk sebuah lawakan yang enggak lucu, kita biasa menyebutnya garing atau jayus. Ada juga yang menyebutnya jasjus. Untuk sesuatu yang enggak oke, biasa kita sebut cupu. Jayus dan cupu bisa dibilang kosakata baru.

Ini berbeda dengan bahasa okem dan bahasa bencong yang populer di tahun 1970-an. Misalnya, kata bokap dan bencong merupakan kata bentukan dari kata bapak dan banci.

Ada rumusnya

Ada banyak ragam bentukan bahasa gaul. Berikut ini penjelasan singkat beberapa metode atau rumus dalam membentuk atau memodifikasi kata.

- Tambahan awalan ko.

Awalan ko bisa dibilang sebagai dasar pembentukan kata dalam bahasa okem. Caranya, setiap kata dasar, yang diambil hanya suku kata pertamanya. Tapi suku kata pertama ini huruf terakhirnya harus konsonan. Misalnya kata preman, yang diambil bukannya pre tapi prem. Setelah itu tambahi awalan ko, maka jadi koprem. Kata koprem ini kemudian dimodifikasi dengan menggonta-ganti posisi konsonan sehingga prokem. Dengan gaya bicara anak kecil yang baru bisa bicara, kata prokem lalu mengalami perubahan bunyi menjadi okem.

Contoh lainnya:
Mati - komat (ko+mat) - mokat
Bini - kobin (ko+bin) - bokin
Beli - kobel (ko+bel) - bokel
Bisa - kobis (ko+bis) - bokis

Dengan metode yang sama, waria di Jawa Timer mengganti awalan ko dengan si

- Kombinasi e + ong

Kata bencong itu bentukan dari kata banci yang disisipi bunyi dan ditambah akhiran ong. Huruf vokal pada suku kata pertama diganti dengan e. Huruf vokal pada suku kata kedua digani ong.

Contoh lain:

Makan - mekong
Sakit - sekong
Laki - lekong
Lesbi - lesbong
Mana - menong

Ada juga waria yang kemudian nengganti tambahan ong dengan es sehingga bentukan katanya

Banci - bences
Laki - lekes

Tambahan sisipan Pa/pi/pu

Setiap kata dimodifikasi dengan penambahan pa/pi/pu/pe/po pada setiap suku katanya. Maksudnya bila suku kata itu bervokal a, maka ditambahi pa, bila bervokal i ditambahi pi, begitu seterusnya.

Contoh:

Mati - ma (+pa) ti(+pi) - mapatipi
Cina - ci (+pi) na (+pa) - cipinapa
Gila - gi (+pi) la(+pa) - gipilapa
Tilang - ti (+pi) la(+pa)ng - tipilapang

Bahasa gaul dengan bentukan kata macam ini rasanya merepotkan. Memang sih sebagai bahasa sandi atau bahasa rahasia mungkin cukup ampuh. Tapi enggak praktis. Bayangkan saja sebuah kata yang tadinya terdiri dari dua suku kata jadi empat suku kata. Jadi terlalu panjang mengucapkannya.

- Sisipan in

Pernah dengar istilah lines? Lines itu artinya 'lesbi'. Rumusnya, setiap suku kata pertama disisipi in. Kata les-bi disisipi -in jadi 1(in)es b(in)I = linesbini. Biar gampang sering disingkat jadi lines saja.

Contoh lain:
Banci - b(in)an-c(in)i - binancini
Mandi - M(in)an-d(in)i -- Minandini
Toko - t(in)o-k(in)o - tinokino
Homo - h(in)o-m(in)o - hinomino

Contoh-contoh di atas bisa dibilang pembentukan kata yang beraturan. Ada juga bentukan kata yang enggak beraturan, jadi enggak bisa dibikin rumusnya. Misalnya kata cabut yang kemudian jadi bacut. Artinya pergi atau berangkat. Bisa juga diartikan lari atau kabur bila diucapkan dengan intonasi tinggi dan panjang (Cabuuut...!). Susah kan, menghubung-hubungkan kata pergi, berangkat, lari, atau kabur dengan kata cabut. Contoh lainnya kata kece untuk cantik. Coba deh dikutak- katik, siapa tahu bisa dibuatkan rumusnya.

Istilah dalam bahasa gaul sekarang ini kayaknya cenderung ke arah yang enggak beraturan itu atau dengan menyingkat kata

Misalnya kalau kita mendengar ada orang yang bilang "macan tutul di Gedung MPR, pamer paha di jalan tol" tentu itu bukan menunjukkan arti sebenarnya. Enggak ada macan tutul di MPR dan enggak ada cewek-cewek pakai rok mini di jalan tol. Tapi maksud dari kalimat tersebut: "macet total di depan Gedung MPR dan padat merayap tanpa harapan di jalan tol".

Masuk KBBI

Bahasa gaul rupanya enggak cuma menarik buat para penggunanya, tapi juga menarik untuk diseminarkan. Buktinya kira-kira setahun yang lalu pernah digelar acara diskusi "Bahasa Slang, Bahasa Gaul dalam Dinamika Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing" di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Yang jadi pembicaranya, antara lain, seniman Remy Silado dan Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Dendy Sugono.

Pak Dendy bilang, bisa saja istilah-istilah gaul dicantumkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang akan diterbitkan pada tahun 2008. Di samping itu, Pusat Bahasa Depdiknas pun akan mengeluarkan KBBI yang hanya memuat istilah-istilah baku. Dengan kata lain, kalau inisiatif Pak Dendy ini terlaksana, tahun 2008 nanti akan ada dua versi KBBI. Salah satunya akan mencantumkan istilah-istilah gaul. Kayaknya rencana Pusat Bahasa mencantumkan istilah gaul dalam KBBI bukan omong kosong. Indikasinya sudah kelihatan kok. Beberapa bulan lalu lembaga ini pernah merilis tentang asal-usul istilah gaul. Dari istilah nih ye, memble, kece, bo, nek, jayus, jaim, sampai gitu loh Hebat kan mereka bisa menemukan siapa saja orang pertama yang menciptakan/menggunakan atau memopulerkan istilah-istilah tersebut. Nah, kita masih ada waktu setahun lebih untuk menciptakan istilah-istilah baru untuk dicantumkan dalam KBBI.

Sumber Primer : Kompas, 15 September 2006. Penulis: Chairul Saleh/Tim Muda
Sumber Sekunder : http://pelitaku.sabda.org/

Arkais

IBU W langsung membubuhi coretan merah pada kata 'kahat' dalam naskah Kamus Swedia-Indonesia susunan Andre Moller. Sang penyusun semula memasangnya sebagai padan kata Swedia 'svalt'. Namun, penanggung jawab bidang bahasa dan sastra perusahaan yang menerbitkan kamus tersebut menyingkirkan kata itu sebab menganggapnya arkais. Tinggallah bencana kelaparan sebagai satu-satunya kata atau ungkapan Indonesia untuk 'svalt'.

Sehabis membaca cerita yang dituturkan Moller dalam rubrik ini dua pekan lalu, saya langsung berbatin, apa dasar hukum bagi vonis Ibu W yth. Kemudian saya periksa status 'kahat' dalam dua kamus yang cukup kerap dirujuk di sini.

Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta menaruh A di awal lema 'kahat', yang berarti berasal dari bahasa Arab. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga mencantumkan Ar pada entri serupa, yang maksudnya bahwa 'kahat' berasal dari bahasa Arab. Tanda arkais pada KUBI adalah +, pada KBBI "ark", dan masing-masing tidak disandingkan untuk menjelaskan status 'kahat'. Jadi, kedua kamus nyata-nyata belum memasukkan 'kahat', yang setimpal dengan bencana kelaparan dan kekeringan karena tidak turun hujan, ke dalam kategori arkais.

Kalaupun 'kahat' arkais, mengapa Ibu W menyisihkannya bahkan untuk keperluan kamus. Pikir saya begitu! Asal tahu saja, banyak kata Latin dan Yunani yang sangat purba dibangkitkan dari kubur oleh ilmuwan-ilmuwan ternama dalam bidang mereka masing-masing untuk melabeli konsep atau temuan mereka. Segera saja kata-kata yang sudah bangkotan itu memasyarakat dan tentu saja tahan zaman.

'Spektrum' yang 300 tahun lalu telah diperlakukan sebagai 'potongan nahinan' alias 'baheula', oleh Sir Isaac Newton diangkat menjadi istilah dalam optika. Sekarang spektrum dianggap modern oleh manusia sejagat sampai abad ini.

'Mimeme' yang barangkali hanya dikenal orang-orang Yunani yang setia pada teks-teks lama mereka, oleh biologiman evolusioner terdepan Richard Dawkins sekitar 30 tahun lalu dipugar jadi 'meme' dan menjadi istilah modern dalam ilmu yang bikin agamawan sering salah tingkah itu untuk menamakan sebuah gagasan semacam gen "pikiran, perilaku, dan kebudayaan" dalam masyarakat manusia. Tak kurang dari Richard Brodie, penulis versi pertama Microsoft Word, yang merasa ketinggalan zaman ketika terlambat mengenal kata 'meme' dalam diskusi dengan beberapa sejawat yang ia kagumi di Microsoft sewaktu Bordie masih bekerja di sana.

Kalau semua editor kamus bersikap seperti Ibu W, kita tak bakal mengenal munsyi semacam Sudjoko dan Remy Sylado oleh ketekunan mereka menimba dari lautan kata-kata nusantara yang pernah hidup untuk memantarkan kata atau istilah yang terus lahir di negeri maju sejalan dengan api inovasi yang tak pernah surut di sana.

Barang siapa yang pernah membaca "Wisata Kata", tulisan Sudjoko dalam buku Ilmuwan dan Bahasa Indonesia (Penerbit ITB, 1988), pasti dapat bersaksi betapa kata-kata nusantara yang terdapat di dalam sebuah kamus seperti KUBI cukup ampuh memantarkan kata-kata dari negeri maju yang sekarang kita serap hanya dengan menyesuaikan ejaan saja: option menjadi opsi, to criticize menjadi mengkritisi, dan lain-lain.

Saya selalu memakai kata pelantam, yang oleh Sudjoko diangkat sebagai padan loudspeaker, untuk perkakas pengeras suara yang selalu saya gunakan saban menikmati musik. Lantam adalah kata yang sangat hidup di Sumatera Utara. Salah satu maknanya ialah 'keras sekali (tentang suara, bunyi)'. Pelantam tentu saja pengeras suara. Bukankah itu juga yang dimaksud dengan loudspeaker?

Saya membayangkan 'pelapahan' suatu waktu kita pakai untuk menimpali 'mutilasi', kata yang selama ini kita anggap tak punya pijakan di bumi nusantara tempat kita menjunjung langit. Lapah, tepatnya melapah, berarti menguliti dan memotong binatang sesudah disembelih'. Bukankah tindakan seperti itu juga yang dimaksud dengan mutilasi?

Masih banyak kata nusantara yang maknanya persis dengan kata-kata dari mancanegara yang masuk ke sini asal saja kita mau tekun seperti Prof Sudjoko mencarinya dari berbagai sumber tertulis semacam kamus atau naskah-naskah lain. Lakon Sudjoko ini mestinya juga lakon setiap orang, yang pekerjaannya menulis!

Saya tak membayangkan kita punya kebebasan seperti ini andaikan saja tangan para editor kamus gemar menghamburkan tinta meraihnya, untuk berulang-ulang membubuhi hanya satu kata: arkais.

Sumber Primer : Kompas, 7 Juli 20006. Penulis: Salomo Simanungkalit
Sumber Sekunder : http://pelitaku.sabda.org/

"Non" Sebagai Awalan? Nanti Dulu!

NONAKTIF. Kata ini meruap kala seorang pejabat terkena kasus atau intrik politik. Misalnya kala Kapolri Bimantoro dinonaktifkan oleh Presiden Gus Dur pertengahan tahun 2001. Begitu juga ketika Syahril Sabirin tersandung kasus Bank Bali. Ia diminta nonaktif dari jabatannya. Kasus terbaru tentunya Akbar Tandjung.

Kali ini, kita akan meninjau penggunaan kata nonaktif tadi dari sudut bahasa dan sama sekali mengabaikan interferensi apa pun yang tidak ada kaitannya dengan kebahasaan.

Pemakaian kata nonaktif sudah marak sebelum kasus-kasus di atas. Maksud kata tersebut mudah dicerna, yaitu mengistirahatkan seseorang dari kegiatan atau kewajibannya. Ada banyak posisi jabatan yang akrab dengan kata non ini. Tidak harus seorang Kapolri, Gubernur BI, atau bahkan Ketua DPR. Seorang Ketua RT pun bisa dinonaktifkan jika dinilai melanggar peraturan.

Kata nonaktif terbentuk dari kata aktif yang diberi awalan berupa non. Benar, dalam bahasa Inggris, misalnya, non itu dianggap sebagai prefiks (awalan), meski hanya dilekatkan pada sejumlah kata tertentu saja.

Agar tidak mengganggu ketatabahasaan kita, maka penulis berpendapat sebaiknya non ini jangan dulu diadopsi sebagai awalan. Sedangkan aktif sendiri memiliki makna giat, namun sebagai kata keadaan, aktif kira-kira berarti masih bertugas.

Sejauh ini, dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia mutakhir, penggalan non juga sering dipadukan dengan kata benda, umpamanya nonfiksi, nonkarier, serta nonanggota.

Penambahan kata non terhadap kata benda bersifat mengingkari atau sepadan dengan penambahan kata bukan kepada kata-kata yang sama (bukan fiksi, bukan karier, dan bukan anggota). Terhadap kata sifat atau kata keadaan, penambahan non setara dengan penggunaan kata tidakA. Kadang-kadang non pun dapat berarti tanpa, seperti terlihat pada kata nongelar dan nonkolesterol.

Seandainya kita berlapang dada menerima kata nonaktif, maka kaidah pengimbuhannya berlaku normal, sehingga akan lahir kata-kata seperti menonaktifkan atau dinonaktifkan atau penonaktifan.

Penyerapan unsur non ini dapat dipandang sebagai sikap yang positif selama kita mampu dengan bijaksana menempatkannya. Perlu diingat bahwa unsur non hanya berterima jika dilekatkan kepada kata benda, kata sifat, atau kata keadaan. Hindarkan pelekatan pada kata kerja, sehingga tidak timbul nonmakan, nonpukul, dan nontulis.

Sejatinya, bahasa Indonesia memiliki dua kata pengingkar: bukan (untuk mengingkari kata benda) dan tidak (untuk mengingkari kata kerja, kata sifat, dan kata keadaan). Kata tidak sesekali muncul dalam wujud tak atau tiada. Selain itu, dikenal pula unsur pengingkar yang lain, non (yang telah kita bahas di atas) dan nir (yang berasal dari bahasa Sansekerta).

Penerapan unsur pengingkar nir dalam mekanisme negasi memang tidak sepopuler non, dan hanya dijumpai bertaut dengan beberapa kata, misal nirbau (odourless), nirkarat (stainless steel), atau nirlaba (nonprofit).

Karena merupakan morfem terikat morfologis, maka cara menulis kata yang mengandung unsur non atau nir seyogyanya bersatu dengan kata dasarnya. Toh, tidak ada salahnya sesekali kita menuliskan kata-kata tersebut dengan perantaraan tanda sambung (-) untuk mempertegas bentuk kata-kata tersebut. Apalagi mengingat kata-kata itu memang agak jarang dipakai, sehingga tidak akan terlalu mengganggu. Silakan saja jika ada satu-dua kata asing yang mengandung unsur pengingkar akan kita ambil begitu saja sebagai kata Indonesia.

Kata nonstop sudah sangat akrab dengan pertuturan kita, sehingga dapat dianggap sebagai kata serapan utuh begitu saja.(*)

Sumber Primer : Majalah Intisari Edisi Januari 2004. Penulis : Lie Charlie
Sumber Sekunder : http://pelitaku.sabda.org/


Sabtu, 11 Oktober 2008

Menganalisa Feedback dan Menyikapinya

FEEDBACK adalah reaksi yang muncul begitu proses komunikasi dijalankan. Namun, feedback umumnya hanya berati tiga hal: berpotensi merugikan, berpotensi menguntungkan, atau tak terlalu berpotensi untuk menimbulkan kedua hal tadi hingga untuk saat-saat tertentu dapat diabaikan.

Feedback dianggap menguntungkan ketika reaksi yang muncul sesuai dengan apa yang telah diperhitungkan dan diharapkan. Dianggap merugikan jika yang terjadi sebaliknya. Dianggap tak berpotensi apa pun jika feedback yang muncul tak mempengaruhi rencana secara keseluruhan.
Masalah seringkali timbul ketika propagandis salah mengenali feedback, atau kurang menyeluruh membuat detail reaksi yang mungkin timbul.

Agar terhindar dari ini sebaiknya propagandis menyusun "peta komunikasinya" dalam setidaknya tiga tingkatan sebab, dan tiga tingkatan akibat. Reaksi yang muncul adalah sebab dari reaksi setelahnya. Sebuah reaksi akan memancing timbulnya reaksi lainnya. Buatlah sedetail mungkin peta reaksi, termasuk dari apa yang mungkin muncul dari pihak ketiga.

Dengan semua itu kita dapat memperhitungkan reaksi apa yang akan kita berikan. Buat detail reaksi ini dalam paling tidak tiga kemungkinan reaksi lainnya hingga apapun reaksi yang muncul dapat segeradikenali dan disikapi.(arief permadi)

Pemetaan Kekuatan

ADA tiga pihak yang biasanya selalu terlibat dalam proses propaganda. Pertama para pelaku propaganda, kedua yang dipropaganda, dan ketiga adalah pihak di luar keduanya yang bisa memperoleh keuntungan atau kerugian dari sukses tidaknya propaganda.
Pihak ketiga, dapat menempatkan dirinya di mana saja. Bisa di pihak propagandis, bisa di pihak yang dikenai propaganda, atau di luar keduanya.

Pengenalan terhadap pihak ketiga ini menjadi penting karena merekalah yang biasanya justru dapat mengacaukan semua prediksi. Namun, karena untuk mengenalinya terkadang cukup sulit, langkah pertama fokuslah pada siapa yang akan menjadi sasaran propaganda.

Jika kita bertindak ebagai propagandis, ada sejumlah informasi yang sebaiknya segera kita ketahui terkait objek dari propaganda kita. Antara lain, kultur budayanya, karakteristik sosialnya, kebiasaan-kebiasaan umumnya, pola kerjanya, serta mimpi-mimpinya.
Para propagandis tentu harus mampu merancang propagandanya dengan sebisa mungkin tampak seperti berorientasi pada pemenuhan faktor-faktor tadi.

Namun, saat yang sama, propagandis juga harus mengenali dirinya. Menghitung bagaimana dan dengan media apa propaganda dapat dengan tepat dilakukan. Sebab, bagaimana pun, unsur persuasi sebaiknya tetap dominan.

Untuk memudahkan perencanaan, sebuah bagan dengan alur yang Anda mengerti dapat Anda buat. Dalam bagan, jangan lupa disertakan pihak mana saja yang Anda masukkan sebagai pihak ketiga. Pihak ketiga dapatdikenali berdasar motif yang mungkin ada.(arief permadi)

Kondisi Komunikator dan Sukses Propaganda

KONDISI komunikator adalah hal yang juga sangat penting dicermati karena berpengaruh besar terhadap keberhasilan propaganda. Paling tidak, tiga hal berikut tak boleh luput, yakni status komunikator, kredibilitas komunikator, dan.daya tarik komunikator,

Status Komunikator. Semakin tinggi posisi atau status seseorang di tengah masyarakat, maka akan semakin mampu dia melakukan persuasi. Dengan demikian pemilihan propagandis terutama dalam media massa yang diorientasikan mencapai khalayak yang heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat.

Kredibilitas Komunikator. Sasaran propaganda mempersepsi para komunikator dengan beberapa cara. Sejauh mereka mempersepsi bahwa propagandis itu memiliki keahlian, kompetisi, keandalan, dapat dipercaya dan autoritas, mereka menganggap bahwa komunikator itu kredibel.

Daya Tarik Komunikator. Semakin menarik komunikator maka semakin besar kemungkinan sukses sebuah propagandanya.(arief permadi)

Propaganda Melalui Media Massa

PROPAGANDA politik melalui media massa, sebenarnya merupakan upaya mengemas isu, tujuan, pengaruh, dan kekuasaan politik dengan memanipulir sisi psikologis khalayak. Begitu urgennya media, sehingga Cater menyebutnya sebagai institusi kekuatan keempat dalam suatu pemerintahan atau The Fourth Branch of Government (dalam Sparrow, 1999).

Dalam pelaksanaannya, propaganda di media massa juga tidak bisa mengenyampingkan beberapa hal yang dikenal dalam rumusan Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese (dikutip Susilo, 2000) sebagai model "hierarchy of influence".

Jika dideskripsikan, sekurang-kurangnya ada lima hal yang mempengaruhi berita media termasuk di dalamnya isi propaganda.
  • Pertama pengaruh individu-individu pekerja media seperti karakteristik pekerja media, latarbelakang personal dan profesional.
  • Kedua, pengaruh rutinitas media seperti tengat waktu (deadline), keterbatasan tempat (space) dll.
  • Ketiga pengaruh organisasional
  • Keempat pengaruh dari luar organisasi media seperti dari partai politik atau pemerintah yang melakukan propaganda.
  • Kelima pengaruh ideologi yang merupakan sebuah pengaruh paling menyeluruh dari semua pengaruh yang ada. Di sini ideologi dimaknai sebagai suatu kekuatan yang mampu melakukan kohesivitas kelompok.

Dengan pengaruh dari kelima faktor tadi, efektivitas propaganda akan sangat tergantung pada kemampuan memanfaatkan media massa secara efektif. Tentu saja dengan pemahaman terhadap karakteristik media massa yang dipakai. Sebab, tidak semua media efektif menjadi medium propaganda dalam suatu konteks tertentu.

Pengemasan
Propaganda dalam media massa tentu saja berbeda dengan propaganda yang dilakukan lewat model rapat akbar partai dan ceramah di lapangan. Propaganda di media sangat dibatasi dengan waktu atau space yang disediakan. Oleh karena itu kemampuan pengemasan menjadi hal yang sangat pokok.

Dari perspektif agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang anggap penting. Bila AS secara terus menerus memberi label Irak, Saddam Husein, Osama bin Laden sebagai biang teroris maka lambat laun khalayak internasional bisa mempengaruhi konstruk berpikir khalayak internasional mengenai teroris.

Begitu juga saat pemerintah Megawati selalu mempersuasi Bangsa Indonesia bahwa Abu Bakar Baasyir dan Jamah Islamiyah sebagai orang dan kelompok membahayakan, maka kemungkinan besar hal ini berpengaruh pada cara berpikir masyarakat. Sama berpengaruhnya saat media selalu menampilkan tokoh tertentu, maka orang tersebut cenderung dianggap tokoh penting.(arief permadi)

Kampanye dan Propaganda

PADA dasarnya tak ada yang berbeda antara kampanye dan propaganda. Kalau pun, kemudian keduanya tampak berbeda, itu karena pendekatan dan metoda yang dipakainya. Kampanye kerap dinilai lebih bersifat persuasif karena disertai bujukan dan iming-iming. Sementara propaganda, sekalipun dasarnya sangat persuasif, kerap disertai tekanan berupa penonjolan dari dampak buruk yang bisa terjadi jika massa tak bertindak seperti apa yang dipropagandakan.

Sekadar menyamakan persepsi, persuasi yang dimaksud tak lain adalah usaha yang disadari untuk mengubah sikap, kepercayaan atau perilaku orang melalui transmisi pesan.

Propaganda sendiri, biasa digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan di dalam suatu organisasi.

Tipe Propaganda
Jaques Ellul (dalam Dan Nimmo) menyebutkan, paling tidak terdapat dua tipe propaganda yang bisa dikenali. Pertama, propaganda yang beroperasi melalui imbauan-imbauan khas berjangka pendek. Biasanya melibatkan usaha-usaha pemerintah, partai atau golongan berpengaruh untuk mencapai tujuan strategis atau taktis. Kedua, tipenya berangsur-angsur, merembes ke dalam lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik.

Melalui propaganda orang disuntik dengan suatu cara hidup atau ideologi. Hasilnya, suatu konsepsi umum tentang masyarakat yang dengan setia dipatuhi oleh setiap orang kecuali beberapa orang yang dianggap sebagai "penyimpang (deviants)".

Berkaitan dengan konsepsi ini akhirya dikenal juga dua tipe lainnya yakni propaganda agitasi dan propaganda integrasi. Agitasi berusaha agar orang-orang bersedia memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung, termasuk mungkin mengorbankan jiwa dalam usaha mewujudkan cita-cita dalam tahap-tahap yang merupakan suatu rangkaian. Sementara integrasi menggalang kesesuaian dalam mengejar tujuan-tujuan jangka panjang. Melalui propaganda ini, orang-orang mengabdikan diri kepada tujuan-tujuan yang mungkin tidak akan terwujud dalam waktu bertahun-tahun.

Terkait sejumlah tipe propaganda tadi, enam hal berikut adalah sesuatu yang biasa digunakan para propagandis dalam "melakukan tugasnya" dengan memanfaatkan kombinasi kata, tindakan dan logika untuk tujuan persuasif. Keenam hal yang dimaksud adalah name calling, glittering generalities, transfer, testimonial, plain folks, card stacking, dan bandwagon.

a. Name Calling
Adalah pemberian label buruk dengan sengaja kepada gagasan, orang, objek atau tujuan agar orang menolak sesuatu tanpa menguji kenyataannya. Misalnya menuduh lawan pemilihan sebagai "penjahat".

b. Glittering Generalities
Adalah penggunaan "kata yang baik" untuk melukiskan sesuatu agar mendapat dukungan, lagi-lagi tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu. Misal AS menyebut operasi mereka ke Afghanistan beberapa waktu lalu sebagai "Operasi Keadilan Tak Terhingga", dengan misi "hukum tanpa batas". Begitu juga saat merencanakan serangan ke Irak, AS menyebutnya sebagai misi kemanusiaan untuk membebaskan manusia dari teror senjata pemusnah massal.

c. Transfer
Yakni mengidentifikasi suatu maksud dengan lambang autoritas, misalnya "pilih kembali Mega di Pemilu 2004".

d. Testimonial
Upaya menggunakan ucapan orang yang dihormati atau dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita mengenalnya dalam dukungan politik oleh surat kabar , tokoh terkenal dll.

e. Plain Folks
Berupa imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak kepada khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif. Misalnya, "saya salah seorang dari anda, hanya rakyat biasa".

f. Card Stacking
Memilih dengan teliti pernyataan yang akurat dan tidak akurat, logis dan tak logis dan sebagainya untuk membangun suatu kasus. Misalnya kata-kata "pembunuhan terhadap pemimpin kita, benar-benar menunjukan penghinaan terhadap partai kita !".

g. Bandwagon
Usaha untuk meyakinkan khalayak akan kepopuleran dan kebenaran tujuan sehingga setiap orang akan "turut naik". (arief permadi)

Komunikasi

KOMUNIKASI, secara sederhana dapat diartikan sebagai seni mempengaruhi orang, atau kelompok orang, melalui simbol-simbol pesan yang disampaikan komunikator, baik secara verbal maupun non-verbal, langsung maupun tidak langsung kepada komunikan. Dan, propaganda, adalah satu variannya.


Komponen Komunikasi
Paling tidak, ada tiga komponen penting dalam komunikasi yang harus kita ketahui, yakni komunikator, pesan, dan komunikan. Namun, dalam bahasan kali ini saya akan menambah dua sub-komponen lain yang tak kalah penting, yakni efek dan reaksi atas efek yang muncul.

a. Komunikator
Salah-satu kunci keberhasilan proses komunikasi adalah kualitas si penyampai pesan atau komunikator. Semakin tinggi kualitas komunikator, maka akan semakin tinggi kemungkinan keberhasilan proses komunikasi yang dijalankan. Berikut, adalah beberapa hal yang harus dimiliki seorang komunikator agar pesan yang ia sampaikan dapat menimbulkan pengaruh dan perubahan seperti yang diharapkan pada diri komunikan.

Komunikator yang baik haruslah mengenal dirinya sendiri. Ia harus mengenal betul kelebihan dan kekurangannya, serta paham cara memanfaatkan kelebihan dan kekurangan tersebut.
Komunikator yang baik juga harus mengenali komunikannya. Komunikator harus tahu apa latar belakang komunikannya, gaya bahasanya, kegemarannya, kondisi lingkungannya, kebiasaannya, keinginannya, dan cara berpikirnya.

Komunikator yang baik, juga dituntut memiliki pengetahuan yang luas, terutama seputar pesan yang ia sampaikan. Ia harus memiliki pemahaman terkait isi pesan yang akan disampaikan, kenapa pesan itu disampaikan, serta efek seperti apa yang diharapkan dari upaya penyampaian pesan tersebut.

b. Pesan
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait pesan ini, yaitu isi pesan, bentuk pesan, kemasan, tujuan, sasaran, media penyampaian, dan serta metoda yang dipakai untuk menyampaikannya.

Isi pesan, bisa sangat bervariasi tergantung kebutuhannya. Namun, apa pun isi pesan tersebut haruslah berorientasi pada tujuan perubahan sikap, cara berpikir dan cara bertindak komunikan yang menjadi alasan kenapa pesan itu disampaikan.

Sebuah pesan juga dapat disampaikan dalam bentuk simbol-simbol verbal berupa rangkaian kata atau kalimat, namun bisa juga berupa simbol non verbal berupa isyarat, kode, perubahan mimik, sorot mata, nada suara, tanda baca, dan sebagainya.

Hal lain yang juga penting pada pesan adalah kemasannya. Semakin bagus dan menarik kemasannya, semakin tinggi kemungkinan pesan itu sampai. Kemenarikan kemasan pesan ini juga sangat tergantung dari bahasa, tata bahasa, dan gaya bahasa yang digunakan, yang semuanya harus disesuaikan pula dengan tujuan penyampaian, di mana pesan disampaikan, dan kepada siapa pesan disampaikan.

Di dalam proses penyampaian pesan, tujuan adalah panduan. Semakin fokus dan terarah tujuannya, maka akan semakin besar pula kemungkinan keberhasilan sebuah proses komunikasi.

Pengenalan terhadap sasaran akan memudahkan pesan sampai seperti yang diharapkan.
Penggunaan media dan metoda yang tepat akan meningkatkan efektivitas komunikasi, bahkan sangat menentukan keberhasilannya secara keseluruhan. Media yang dimaksud bisa berupa media tatap muka, atau media massa cetak maupun elektronik. Sementara metoda penyampaian bisa bersifat langsung, tidak langsung, visual, audio, atau audio visual.

c. Komunikan
Komunikan biasa juga disebut dengan sasaran dalam sebuah proses komunikasi. Komunikan, seberapa pun banyaknya pada hakikatnya adalah individu, yang memiliki kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginannya sendiri-sendiri. Kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginan komunikan ini sangat berpengaruh terhadap sikap dan keputusan.

Namun perlu diingat pula bahwa karena seberapa pun banyaknya, komunikan pada hakikatnya adalah individu, faktor penentu sikap dan keputusan mereka pun (kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginan), menjadi sangat rentan terhadap perubahan. Selain karena faktor latar belakang (budaya, pendidikan, status sosial, dll), perubahan juga trentan dipengaruhi faktor-faktor lainnya, seperti usia, gender, tren, bahkan opini publik berikut euforia yang mengiringinya. Kerentanan inilah yang kemudian seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh komunikator. (arief permadi)

Jumat, 10 Oktober 2008

Melindungi Narasumber

KEPANDAIAN seorang wartawan saat melakukan wawancara, kerap membuat nara sumber lupa bahwa saat itu ia sedang diwawancara, dan apa pun yang ia katakan akan dapat disebarluaskan di media massa.

Saking asyiknya nara sumber dapat sangat mungkin tanpa sengaja membocorkan rahasia-rahasia penting, hal-hal yang dapat menimbulkan kehebohan, atau hal-hal yang memiliki konsekuensi hukum. Saking asyiknya, nara sumber juga bisa tanpa sengaja memberikan penilaian yang berlebihan terkait seseorang, lembaga, atau masalah tertentu.

Untuk tujuan tertentu, seorang wartawan biasanya membiarkan keasyikan narasumber itu terus terjadi. Beberapa menggunakannya untuk "memukul balik" narasumber pada saat yang diperlukan. Namun, beberapa lagi membiarkannya dengan catatan akan langsung mngeditnya saat memulai penulisan.

Tapi, wartawan yang baik, kerap memilih mengingatkan narasumbernya saat wawancara berlangsung, bahwa narasumber sedang ada dalam wawancara resmi di mana apa pun pernyataannya dapat memiliki konsekuensi tertentu jika dikutip dalam berita.

Cara mengingatkan ini bisa dengan beragam cara. Bisa secara verbal, tapi bisa juga nonverbal, misalnya dengan memperlihatkan aktivitas mencatat atau merekam.

Untuk pernyataan-pernyataan yang dinilai berbahaya atau berpotensi membahayakan narasumber jika disebarluaskan, sebaiknya wartawan mengulangnya hingga beberapa kali. Cara ini memberi kesempatan pada nara sumber untuk meralat pernyataannya. Ia akan paham bahwa kita sedang melindunginya dari hal-hal yang tidak ia sadari.

Untuk pernyataan-pernyataan semacam ini, wartawan juga bisa menanyakannya satu atau dua kali pada narasumber tentang boleh atau tidak pernyataan itu dikutip.Tapi, jangan terlalu sering pula melakukan hal itu, sebab ini akan membuat narasumber bosan hingga wawancara tak berkembang.

Umumnya, narasumber akan merasa sangat dihargai ketika kita dengan cara-cara yang tepat mengingatkan mereka terkait beragam statement yang mereka berikan. Ini justru akan membuat mereka semakin terbuka. Kita mungkin akan memperoleh banyak sekali hal yang tak terduga karena "kebaikan" melindungi narasumber ini.

Jika narasumber ingin pernyataannya tak dikutip (off the record), adalah kewajiban wartawan untuk mematuhinya. Begitu juga ketika narasumber ingin agar identitasnya tidak dipublikasikan, adalah kewajiban wartawan untuk memenuhinya. Namun, mempublikasikan pernyataan dari narasumber yang identitasnya tidak ingin dipublikasikan membuat wartawan harus memikul risiko tambahan. Ia harus mengambil alih tanggung jawab narasumber anonim tersebut jika di kemudian hari menimbulkan masalah hukum. (arief permadi)

Off The Record

UNTUK hal-hal tertentu, narasumber sering memberi catatan off the record terkait statement yang diberikannya. Sebaiknya, wartawan mengulang pernyataan tersebut satu atau dua kali, dan menanyakan kembali bagian mana saja yang off the record.

Off the record sendiri secara sederhana bisa dipahami sebagai informasi yang diberikan untuk tidak disebarluaskan.

Biasanya, naskah off the record diberikan narasumber untuk dua hal, yakni menunjukkan bahwa ia tahu cukup dalam tentang masalah yang sedang dibahas, kedua untuk memberi petunjuk pada wartawan tentang informasi yang ia tahu, namun tidak bisa ia berikan untuk publik.

Karena itu, setiap kali menerima pernyataan off the record, adalah penting bagi seorang wartawan untuk menanyakan pada narasumber tersebut tentang siapa saja selain dia yang juga mengetahui informasi tersebut. Dengan demikian, jika memang informasi off the record itu sangat menarik, wartawan bisa mengupayakan memperolehnya dari sumber yang lain, yang tentu saja on the record (bisa disebarluaskan).

Tapi, dalam banyak kasus, wartawan juga dapat membujuk narasumber agar bersedia mempublikasikan pernyataannya. Yakinkan narasumber bahwa pernyataannya justru akan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas. Yakinkan bahwa pernyataan itu tak akan berdampak buruk bagi narasumber. Sebab, sering juga, narasumber hanya memiliki kekhawatiran yang sebenarnya tak ia perlukan terkait pernyataannya.

Tapi, sekali lagi, jika narasumber tetap ingin pernyataannya tak dikutip adalah kewajiban wartawan untuk mematuhinya.(arief permadi)

Nara Sumber

NARA sumber adalah orang yang terkait dengan rangkaian fakta yang akan diberitakan yang dimintai keteranganan, dan pernyataannya oleh seorang wartawan.


Secara umum, nara sumber ini terbagi dalam dua bagian besar, yakni nara sumber utama (primer), dan nara sumber pendamping (sekunder).

Nara sumber utama adalah orang yang terkait langsung dengan rangkaian fakta yang diberitakan. Jika kita ambil contoh sebuah peristiwa kebakaran, nara sumber utama terdiri dari korban yang selamat, para saksi mata yang terpilih (setelah diseleksi), dan orang yang ikut menangani kebakaran tersebut, seperti petugas pemadam kebakaran dan petugas kepolisian.

Untuk merekonstruksi peristiwa kebakaran dalam bentuk tulisan, keterangan dan pernyataan dari nara sumber utama mutlak diperlukan. Nara sumber utama adalah orang yang harus mendapat prioritas utama untuk "dikejar". Berita sering tak cukup layak untuk dapat menjadi lengkap tanpa adanya keterangan atau pernyataan dari nara sumber utama tersebut.

Nara sumber sekunder adalah orang yang sengaja dikaitkan wartawan karena keterangan dan pernyataannya dapat digunakan wartawan untuk memperkuat beritanya sekaligus memberi warna dalam tulisannya. Dalam peristiwa kebakaran, nara sumber sekunder seperti pengamat kebakaran, ketua RT, RW, pegawai kelurahan atau kecamatan, pihak rumah sakit, pihak BMG, dan sebagainya.

Terkait nara sumber, kita juga mengenal istilah nara sumber resmi, yakni orang yang pernyataannya dinilai mewakili dinas, instansi, atau lembaga resmi. Di lembaga pemerintahan, orang setingkat lurah, kades, camat, kepala dinas, kabag humas, atau orang-orang yang secara resmi ditunjuk untuk mewakilinya untuk memberikan pernyataan bisa disebut sebagai nara sumber resmi. Untuk banyak sekali peristiwa, kedudukan nara sumber resmi ini sangat penting, sebab keterangan yang diberikannya adalah keterangan resmi yang "memiliki kekuatan hukum".

Karena itu, sedapat mungkin seorang wartawan sebaiknya mendapatkan keterangan resmi itu dari level tertinggi dari lembaga, instansi, kantor, atau dinas yang ditujunya. Misalnya untuk tingkat dinas, pernyataan kepala dinas sedapat mungkin harus ia dapatkan. Tapi, jika tak mungkin, cari level yang setingkat di bawahnya, dan seterusnya, dengan catatan nara sumber tersebut masih dinilai pantas untuk mewakili dina tersebut. Level di bawah kpala dinas bisa saja wakil kepala dinas, para kepala bagian (yang terkait), atau kepala bagian humas, atau orang- orang yang secara resmi ditunjuk untuk memberikan pernyataan.

Selain nara sumber resmi, dunia kewartawanan juga mengenal apa yang disebut nara sumber tak resmi. Nara sumber tak resmi adalah orang-orang yang dinilai tahu tentang informasi yang diperlukan terkait sebuah berita. Mengutip pernyataannya tak dibenarkan kecuali disertai tanggapan dari sumber-sumber resmi.

Posisi nara sumber tak resmi ini juga sangat penting dalam sebuah proses peliputan berita. Sebab, informasi yang diberikannya seringkali akurat bahkan mengejutkan, dan kita tinggal mengonfirmasikannya dengan sumber-sumber resmi. (arief permadi)

Pengantar Manajemen Suratkabar

DALAM pengertian sederhana, manajemen adalah tindakan yang dilakukan untuk membuat sumber daya yang ada dapat berfungsi secara maksimal untuk mencapai tujuan tertentu. George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna,. 2011: 10) , mengatakan tindakan tersebut meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (acting) dan pengawasan (controling).

Karena inti dari manajemen adalah pemaksimalan fungsi dari sumber daya yang ada, tak ada patokan yang benar-benar baku yang harus dilakukan. Semuanya harus dirancang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, kondisi dan karakteristik sumber daya yang ada.

Hal tersebut, berlaku pula dalam manajerial media massa. Karena itu, sekalipun pada intinya sama, setiap perusahaan media menerapkan sistem manajemen yang tampak berbeda antara satu dengan lainnya.

Manajemen media massa sendiri secara umum terbagi atas dua bagian besar, yakni bagian redaksi dan perusahaan. Redaksi membawahi semua kegiatan yang berhubungan dengan produk, yakni berita, mulai dari perencanaan peliputan, pencarian berita, pengolahan data, pecancangan halaman dan layout, . Sementara perusahaan membawahi segala kegiatan terkait pemasaran produk, produksi, promosi, sirkulasi, iklan, pengelolaan SDM, berbagai perjanjian kerjasama, dan sebagainya. Semua kegiatan baik pada bagian redaksi maupun perusahaan, dipimpin oleh seorang pemimpin umum.

Dalam kata lain, pemimpin umum bertanggung jawab menjalankan organisasi perusahaan secara keseluruhan, memegang otoritas tertinggi dari seluruh kegiatan yang ada di dalam perusahaan, membawahi semua unit, baik yang ada di dalam lingkup keredaksian maupun perusahaan, namun pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.

Karena tugas dan wewenang yang begitu besar dari seorang pemimpin umum, mereka yang berada pada posisi ini selalu dibantu oleh seorang pemimpin redaksi dan seorang pemimpin perusahaan. Jika dibuat perumpamaan, keduanya merupakan tangan kiri dan tangan kanan pemimpin umum, di mana yang satu tidak lebih penting dari yang lain.(arief permadi)

Kamis, 09 Oktober 2008

Mengolah Hasil Wawancara

BAGI mereka yang sudah terbiasa menulis, tak sulit mengolah hasil wawancara. Ia dapat dengan cepat memilih sudut paling menarik dan penting yang akan ia tulis. Dan, dari sanalah ia akan memulai, sekaligus menentukan tulisan seperti apa yang akan ia buat.

Ada kalanya, sekalipun wawancara dilakukan cukup lama dan informasi berikut pernyataan yang terungkap begitu banyaknya, hanya sedikit dari hasil wawancara itu yang dikutip dalam bentuknya yang utuh sebagaimana yang dikatakan nara sumber ketika wawancara berlangsung. Seorang wartawan bahkan kerap hanya memakai satu atau dua kalimat utuh, sekadar penguat dari tulisan secara keseluruhan. Cara ini lazim digunakan pada penulisan berita-berita langsung (straigtnews), softnews, atau berita-berita kisah yang ditulis dalam gaya deskriptif.

Namun, ada kalanya, hasil wawancara juga dimuat utuh dalam bentuk tanya jawab.Untuk hal ini, wartawan biasanya memberi sedikit pengantar pada awal tulisan. Pengantar berisi paparan tentang siapa, kenapa, dan topik apa yang dibicarakan, termasuk kenapa topik tersebut menjadi sangat penting atau menarik.

Teknik penulisan seperti ini umumnya tak berdiri sendiri. Tulisan dalam bentuk tanya jawab biasanya menjadi tulisan terpisah dari tulisan lainnya yang terbit pada hari yang sama dengan topik yang sama. Hasil wawancara yang ditulis dalam bentuk tanya jawab juga dimaksudkan untuk menunjukkan eksklusivitas berita. Wartawan yang baik tak akan sembarangan menggunakan teknik ini. Tokohnya harus dipilih secara tepat. Wartawan juga harus memiliki argumen yang kuat kenapa teknik penulisan dengan bentuk tanya jawab ini ia gunakan.

Berikut, beberapa langkah praktis yang dapat dijadikani panduan saat mengolah hasil wawancara:

1. Baca atau dengar kembali catatan atau rekaman hasil wawancara dengan teliti. Wawancara dengan narasumber utama, mendapat prioritas pertama untuk disimak.
2. Jika hasil wawancara terdiri dari beragam topik, pilah topik-topik tersebut dan kelompokkan, lalu pilih beberapa topik yang paling menarik berdasar skala kemenarikan.
3. Jika ada lebih dari satu narasumber, pilah pernyataan-pernyataan yang dianggap terkait dengan topik-topik yang lebih dulu dipilih. Cara ini akan memudahkan Anda memberikan penguatan pada ide berita secara keseluruhan, sekaligus memberi warna pada tulisan.
4. Setelah semuanya selesai, mulailah menentukan akan ditulis seperti apa hasil wawancara ini. Jika informasi yang ada pada hasil wawancara adalah informasi yang harus sesegera mungkin disebarluaskan pada pembaca, tulislah dalam gaya straigtnews yang singkat dan padat. Namun, jika Anda akan menulisnya secara komprehensif, ada baiknya menyertakan anak-anak tulisan yang terkait selain tulisan utama. Pilih sudut-sudut lain yang juga tak kalah menarik dengan gaya straightnews, softnews, atau feature. Ini membuat pembaca Anda merasa puas karena pada hari yang sama di media yang sama, dapat membaca satu topik berita dari beragam sudut (multi angle).
5. Pilih pernyataan-pernyataan nara sumber yang penting atau menarik, lalu susun berdasar skala prioritas.
6. Jangan ragu untuk tak memuat beberapa bagian atau sebagian besar hasil wawancara jika Anda nilai tak berkaitan, atau sama sekali tak penting dan tak menguatkan ide tulisan secara keseluruhan
7. Ada kalanya, logika, tatabahasa dan beragam istilah yang digunakan narasumber tidak tepat, bahkan keliru. Wartawan diperkenankan memperbaiki itu, namun tidak sekali-kali mengubah arti atau maksud perkataan narasumber. Ini juga berlaku pada hasil wawancara yang ditulis dalam bentuk tanya jawab, kecuali ada maksud lain dari wartawan untuk menunjukkan kapasitas dan karakter nara sumber secara utuh untuk tujuan tertentu.
8. Pahami benar fungsi penggunaan tanda baca. Penggunaan tanda baca yang salah dapat mengganggu kenikmatan membaca, bahkan membuat artinya berubah.
9. Sortir dengan bijaksana pernyataan yang berbau fitnah, kasar, atau cabul. Selain tidak pantas, wartawan dapat terkena konsekuensi hukum dari tulisan yang dibuatnya.(arief permadi)

Membuat Catatan

TAK seorang pun mampu menghapal semua data, kronologis peristiwa, atau ide yang datang selintas dan tiba-tiba untuk jangka waktu yang lama. Karena itu, setinggi apa pun jam terbang seorang wartawan, ia tetap membutuhkan catatan dalam melakukan kerja jurnalistiknya, bahkan ketika ia menggunakan alat perekam.

Secara garis besar, ada dua fungsi penting dari catatan ini bagi wartawan. Pertama sebagai pengingat, kedua sebagai salah satu cara bagi wartawan untuk dapat menentukan sudut berita secara cepat saat memulai penulisan.

Umumnya, wartawan akan mencatat kronologi peristiwa, data-data dan informasi penting, kutipan pernyataan narasumber yang dianggap penting dan menarik, serta ide-ide penulisan yang tanpa sengaja muncul saat melakukan liputan.

Wartawan yang baik juga akan mencatat hal-hal lain seperti suasana, mimik, tekanan suara, dan gerak tubuh narasumber pada bagian bawah atau pinggir kutipan langsung yang ia buat. Ini dapat ia gunakan untuk memberikan warna pada tulisannya kelak.

Dulu, ketika alat perekam belum ada, teknik mencatat cepat dikenal dengan teknik steno. Steno terdiri dari kode-kode tertentu yang bisa dipahami wartawan, namun belajar steno juga cukup melelahkan hingga teknik ini kini jarang dipakai oleh wartawan muda.

Namun, karena menulis cepat tetap sangat diperlukan, ada baiknya wartawan menggunakan prinsip pengodean ini dalam melakukan pencatatan. Gunakan kode-kode sendiri yang bisa Anda hapal dengan mudah. Kode ini juga akan bermanfaat jika catatan Anda hilang atau terjatuh ke tangan orang lain, sementara Anda tak ingin orang lain memahami catatan Anda.

Fungsi lain dari catatan adalah membuat wartawan dapat cepat menentukan sudut berita cepat saat memulai penulisan. Ini bisa terjadi, sebab umumnya, wartawan hanya mencatat hal-hal yang penting saja hingga saat memulai menulis, ia tak perlu lagi sibuk memilih sudut karena biasanya sudut itu sudah terpilih sejak awal.(arief permadi)

Pahami Bahasa Tubuh

SALAH satu hal penting yang harus dimiliki seorang wartawan dalam melakukan wawancara adalah memahami bahasa tubuh narasumber. Dengan memahami bahasa tubuh ini seorang wartawan dapat dengan segera membuat langkah-langkah pengkondisian demi kepentingan pekerjaannya. Ia dapat menghitung reaksi yang timbul dari pertanyaan yang ia lontarkan sekaligus mengantisipasinya.

Bahasa tubuh adalah reaksi bawah sadar yang ditampilkan seseorang saat menerima stimulus tertentu. Stimulus tersebut dapat berupa pertanyaan, suasana, musik, tekanan suara, dan sebagainya. Setiap orang memiliki kecenderungan tertentu yang bersifat universal dari stimulus yang datang.

Contoh, ketika seseorang merasa tidak senang, ia akan cenderung mengernyitkan dahi. Orang yang merasa tersanjung umumnya memperlihatkan senyum dan mata yang berbinar, orang yang marah biasanya merah padam dan kecut.

Sebagai bekal, Anda dapat memperpanjang daftar reaksi-reaksi tubuh yang umum ini berdasar pengalaman Anda. Kemampuan mengenali reaksi ini secara tepat membuat Anda dapat cepat pula melakukan antisipasi. Antisipasi yang cepat dan tepat terhadap reaksi yang uncul dari narasumber adalah salah satu kunci penting dari suksesnya wawancara.

Namun, jika Anda dapat mengenali bahasa tubuh seseorang, hal yang sama juga dapat dilakukan orang lain kepada Anda. Pertanyaannya, mungkinkah Anda memanipulasi bahasa tubuh Anda hingga orang lain akan bereaksi seperti yang Anda inginkan? Jawabannya sangat mungkin.

Untuk melatihnya, cobalah bercermin sedikit lama di dalam kamar. Praktekkan beberapa sorot mata dan mimik, seperti sorot mata dan mimik terkejut, marah, kagum, senang, menyelidik, sedih, simpati, geram, penuh pengertian, welas asih, dan sebagainya. Latihlah berulangkali hingga Anda menjadi sangat piawai melakukannya. Percayalah. Mimik-mikik dan aneka sorot mata yang Anda latih itu akan sangat bermanfaat saat melakukan wawancara.

Sambil jalan, latih pula tekanan suara Anda. Cara yang mudah, ambil tape recorder, lalu rekam suara Anda saat mengucapkan beragam kalimat pertanyaan, lalu dengarkan. Rasakan emosi yang muncul saat mendengarkan rekaman suara Anda tadi. Reaksi orang lain saat mendengar suara Anda, biasanya tak akan jauh dari reaksi Anda saat mendengar suara Anda sendiri.

Ada baiknya, Anda juga melatih nada suara yang akan Anda pakai saat bertanya pada seseorang yang sedang terkena musibah. Rekam dan dengarkan. Rasakan, apakah tekanan suara Anda sudah menunjukkan seseorang yang berempati dan penuh welas asih atau tidak. Jika belum, latihlah kembali hingga tekanan suaranya tepat.

Karakteristik seseorang juga tergantung dari mana dia berasal dan di mana ia tumbuh besar. Orang Sunda biasanya berbicara lemah lembut, ia akan tersinggung jika kita bertanya dengan keras. Sebaliknya, orang Batak umumnya bersuara keras dan tegas. Ia justru akan merasa bosan jika nada suara kita terlalu lembut, atau jika pertanyaan kita terlalu bertele-tele.
Pemahaman tentang karakter umum masyarakat juga menjadi kunci penting dari suksesnya wawancara.

Hal lain dari karakter seseorang umumnya juga tercermin dari penampilan fisiknya. Seseorang yang tampil urakan dengan gaya bicara ceplas-ceplos umumnya berkarakter bebas, tak suka keterikatan, namun sangat menghargai keberanian dan kejujuran. Menghadapi orang seperti ini Anda juga harus bertanya dengan lugas. Pertanyaan yang bertele-tele akan dengan cepat membuatnya bosan.

Berbeda dengan orang berpenampilan urakan, orang yang berpenampilan necis, rambut tersisir rapi, wangi, dengan tutur kata yang lemah lembut, biasanya akan langsung menutup diri jika Anda bertanya terlalu lugas tanpa basa-basi. Anda harus pandai menyiasatinya. Menemui orang semacam ini sebaiknya Anda pun berpakaian rapi dan tepat waktu agar wawancara berlangsung dalam suasana saling menghormati. Anda mungkin dapan men-setting suasana tidak terlalu formal, namun sebaiknya juga jangan terlalu santai.

Penampilan Anda bagaimana pun adalah juga bahasa tubuh Anda. Jika Anda akan mewawancarai Gubernur di ruang kerjanya, tentu sangat tidak tepat jika Anda berpakaian santai dan sporty. Tapi, jika Anda akan mewawancara seorang pemain sepakbola di pinggir lapangan ketika ia usai berlatih, tampilan sporty akan jauh lebih bermanfaat jika Anda lakukan. (arief permadi)

Pengertian dan Teknik Wawancara

SERINGKALI, seorang wartawan tiba di lokasi setelah sebuah peristiwa terjadi. Padahal, ia harus mereka ulang peristiwa itu menjadi sebuah berita, hingga merangkai ceceran fakta yang tercecer saja tentu tak memadai.

Jika ini terjadi, hal yang harus dilakukan adalah mencoba meminjam persepsi orang lain untuk kemudian dirangkaikannya kembali dalam sebuah cerita. Dalam dunia kewartawanan, proses meminjam persepsi orang lain ini dikenal dengan istilah wawancara.

Wawancara secara fungsional dapat diartikan sebagai seni mengorek keterangan dari seseorang tentang sesuatu hal.

Dikatakan sebagai sebuah seni karena sentuhan rasa sangat diperlukan agar wawancara berlangsung dengan sukses.

Wawancara dikatakan sukses ketika narasumber menjadi sangat terbuka, sadar dan rela memberikan semua informasi yang dibutuhkan oleh pewawancara. Untuk itulah sentuhan rasa ini sangat diperlukan. Nara sumber harus merasa nyaman ketika wawancara berlangsung.

Untuk membuat narasumber merasa nyaman ketika wawancara berlangsung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari sikap dan penampilan pewawancara, penguasaan pewawancara terkait topik yang akan ditanyakan, pengenalan terhadap narasumber, kemampuan membaca bahasa tubuh, hingga kemampuan mengantisipasi reaksi.

a. Penampilan.
Saat melakukan wawancara, tampillah dengan pakaian yang pantas yang disesuaikan dengan siapa nara sumber yang akan di wawancara, di mana dan dalam suasana seperti apa wawancara dilakukan.

Jika yang akan ditemui adalah seorang Gubernur dan akan ditemui di kantor tempatnya bekerja, akan sangat bijaksana jika Anda memakai pakaian resmi, rapi, dan perlente. Penampilan Anda akan menimbulkan kesan yang baik pada diri narasumber, dan otomatis akan membuat narasumber merasa nyaman saat berbincang dengan Anda.

Hal berbeda, tentu harus Anda lalkukan jika Gubernur Anda temui di kediamannya. Meski Anda sebaiknya tetap mengenakan pakaian yang rapi, namun pakaian yang Anda pakai sebaiknya bukan busana resmi.

Perbedaan juga harus Anda lakukan jika yang akan diwawancara adalah seorang pemain sepakbola di Stadion Siliwangi, misalnya. Narasumber akan merasa lebih nyaman jika Anda datang dengan mengenakan busana yang sporty dibanding busana resmi.

b. Wawancara Bukan Interograsi
Ini kesalahan yang biasa dilakukan oleh wartawan pemula. Anggapan bahwa kesuksesan wawancara dilihat dari kemampuan pewawancara menekan dan memojokkan narasumber serta memaksanya menjawab apa yang ditanyakan jelas merupakan sebuah kesalahan.
Pewawancara yang baik tak akan pernah memojokkan narasumber terlebih pada pertanyaan pertama. Ia juga tak akan menunjukkan superioritasnya. Ia akan lebih memilih melakukan tanya jawab dengan model diskusi di mana perbincangan mengalir lembut namun tetap fokus.

c. Tunjukkan Empati
Dalam banyak kasus, tanpa harus ditekan pun, narasumber kerap ada dalam posisi yang terpojok, sedih, atau bingung. Pewawancara yang baik akan memperlihatkan empatinya ketika wawancara berlangsung. Yakinkan narasumber bahwa Anda mengerti dan memaklumi apa yang sedang menimpanya. Namun, saat yang sama Anda harus juga meyakinkan narasumber bahwa sudah menjadi tugas Anda untuk meminta beragam informasi dan keterangan darinya untuk pembaca, pendengar, atau pemirsa media massa tempat Anda bekerja. Kesepahaman antara Anda dan narasumber akan sangat menunjang suksesnya wawancara yang Anda lakukan.

d. Berikan Rasa Aman
Kadangkala, saking nyamannya bertanya jawab, narasumber 'lupa' bahwa saat itu ia sedang diwawancara. Kerap banyak informasi bersifat rahasia muncul, dan jika ini terjadi tugas pewawancaralah mengingatkan narasumber bahwa informasi yang muncul selama wawancaraakan dipubliskasikan di media masa. Jika narasumber kelepasan bicara, ia akan meralat atau meminta bagian tertentu untuk tak dipublikasikan (off the record). Sikap ini, selain mengundang simpati juga akan membuat narasumber semakin terbuka dan nyaman karena yakin bahwa kepentingannya juga dilindungi.
Ulanglah informasi atau pernyataan-pernyataan penting atau berbahaya yang diucapkan oleh narasumber melalui pengulangan pertanyaan atau pengulangan pernyataan. Ini juga akan membuat narasumber merasa nyaman karena kepentingannya dilindungi.

e. Kesepakatan Off The Record
Yakinkan nara sumber bahwa Anda setia dengan kesepakatan off the record yang telah dibuat. Namun, mintalah informasi lainnya tentang siapa saja lagi yang bisa Anda tanyai terkait informasi off the record tersebut. Narasumber biasanya gemar membeberkan informasi yang off the record sekadar menunjukkan bahwa dia tahu. Tapi sesungguhnya, ia ingin mengatakan bahwa pewawancara sebaiknya menemui orang lain terkait informasi off the record yang ia beberkan.

f. Kuasai Topik Wawancara
Kuasailah topik permasalahan yang akan Anda tanakan saat wawancara. Selain memudahkan Anda dalam bertanya, penguasaan topik juga membuat narasumber Anda nyaman karena merasa Anda juga paham pada persoalan yang terjadi.

g. Daftar Pertanyaan
Buatlah daftar pertanyaan yang harus Anda dapatkan jawabannya sesuai dengan skenario penulisan, penyiaran, atau penayangan yang akan Anda buat. Jika Anda telah membuat 10 pertanyaan, saringkah menjadi lima pertanyaan yang paling penting. Saring lagi menjadi tiga pertanyaan hingga satu pertanyaan terpenting. Jika waktu Anda sangat mepet, gunakan skala prioritas berdasar penyaringan pertanyaan yang telah Anda lakukan tadi.
Sekadar catatan, skenario penulisan, penyiaran, atau penayangan bukanlah skenario fakta. Anda tak diperkenankan membuat rekayasa atas fakta yang terjadi. (arief permadi)

Selasa, 07 Oktober 2008

Menulis Lead



SETIAP tulisan terdiri atas tiga bagian, yaitu pembukaan (lead, intro), tubuh (detail), dan penutup. Namun, dari ketiga bagian itu, menulis lead-lah yang sering kali dianggap sebagai bagian yang tersulit.

Pada dasarnya, tak ada aturan baku yang mengatur format sebuah lead atau teras berita. Lead dapat ditulis dalam pola apapun, selama memenuhi unsur penting, menarik, serta mempunyai daya jual yang tinggi.

Selain tergantung pada news value, kemanarikan lead juga sangat tergantung dari bagaimana rangkayan kata dan kalimat yang dipakai disusun oleh penulisnya. Terkait ini ada beberapa patokan, berikut di antaranya:

  • Tulislah dengan kalimat-kalimat pendek.
  • Gunakan bahasa yang mudah dimengerti
  • Tonjolkan informasi yang paling penting pada bagian awal
  • Perlihatkan manfaatnya bagi pembaca
  • Jangan berbelit-belit
  • Tonjolkan kehebohan, konflik, keajaiban, kenestapaan dsb jika unsur-unsur tersebut yang dipilih
  • Masuklah melalui sisi karakteristik, sifat, adat, kebiasaan, kesukaan, atau segala macam hal yang dekat atau memiliki kedekatan dengan pembaca, bisa juga dengan memilih sisi fakta yang paling memberikan keuntungan bagi pembaca
  • Hal lain yang juga tak kalah penting adalah pembatasan penggunaan istilah dan jargon yang sulit dibaca, tidak pada tempatnya, atau sulit dimengerti. Gunakan kosa-kata yang umum. Pastikan bahwa kata-kata yang digunakan selalu tepat dan mengena

Sebuah lead, bisa juga ditulis dengan menggunakan pendekatan 5 W plus 1 H. Kita tinggal memilih mana yang paling penting, menarik dan berdaya jual dari 5 W p;us 1 H itu, apakah unsur what-nya, why-nya, who-nya, where-nya, when-nya, atau how-nya? Lihat beberapa contoh berikut ini.
Dalam penulisan berita langsung yang menggunakan piramida terbalik, unsur layak berita yang paling kuat ditulis sebagai pembukaan.

Seluruh berita disampaikan paragraf demi paragraf dari keseluruhan fakta. Seluruh fakta adalah jawaban atas enam pertanyaan pokok, dan jawaban inilah yang disampaikan bagian demi bagian. Satu paragraf mengandung satu kesatuan ide yang bahannya berasal dari fakta-fakta.

Jika menggunakan teknik piramida terbaik, bagian penutup menjadi tidak terlalu penting, sebab bagian terpenting sudah disampaikan dalam pembuk­aan maupun tubuh berita.

Tetapi untuk tulisan yang berwujud berita kisah (feature), ada kalanya klimaks peristiwa ditempatkan pada bagian penutup. Karenanya penulisan penutup ini bisa jadi sangat penting.
Berita kisah ditulis dengan struktur bebas, tidak mengguna­kan teknik piramida terbalik.

Biasanya lebih mengutamakan penguluran ketegangan, yaitu dengan menempatkan klimaks atau fakta yang paling dramatis di bagian akhir. Pembukaan berita kisah biasanya hanya merupakan usaha untuk menarik perhatian, bukan memberi informasi. Dalam berita kisah, penulis selain memberikan fakta-fakta yang sifatnya manusiawi, juga dengan gaya prosais menampilkan suasana.(arief permadi)